Menganyam Memori

Ibuku dulu (dan hingga kini, sih) adalah seorang pekerja. Bisa dibilang, ibuku adalah pekerja yang supersibuk. Meski begitu, banyak juga memori masa kecilku yang di dalamnya ada ibu. Ini artinya, sesibuk apa pun ibu di luar, dia selalu bisa hadir dan mendampingi kami anak-anaknya. Selain jalan-jalan, salah satu memori bersama ibu yang juga menyenangkan adalah tentang aktivitas memasak.

Saat aku kecil, di masa senggangnya ibu senang membuat berbagai macam hidangan. Baik hidangan utama maupun hidangan untuk camilan. Dan ibu cukup sering mengajakku untuk terlibat. Berhubung ini sedang nuansa Ramadan, jadi aku akan bercerita tentang salah satu hidangan khas lebaran.

Memiliki darah Bali asli, membuat ibu piawai sekali dalam hal menganyam cangkang ketupat. Khas lebaran banget kan, tuh. Orang Indonesia kayaknya nyaris mustahil, ya, membayangkan lebaran tanpa ketupat. Kita tahu isian ketupat adalah beras, dan memasaknya adalah dengan merebus. Nah, dahulu, ibu selalu membuat ketupat dari titik nol. Tidak ada tuh yang namanya beli cangkang jadi di pasar. Jika ingin membuat ketupat, ibu akan memesan janur dari tukang sayur langganan. Dua tiga, bahkan kadang sampai empat ikat janur yang dibeli, semua akan disianginya sendiri. Kalau dihitung per satuan cangkangnya, ibu bisa menganyam sendiri sampai sekitar 150-an cangkang.

Satu batang janur itu terdiri atas dua helai. Sebagian orang akan melepaskan seluruh tulang janur, memisahkan kedua helai seutuhnya. Kalau ibuku tidak begitu. Ibu selalu menyisakan sedikit tulang janur di bagian atas, sehingga kedua helai tidak lepas semua. Tulang-tulang janur yang sudah dikupas, biasanya dikumpulkan oleh ibu untuk kemudian dijadikan sapu lidi. Setelah seluruh tulang disiangi, baru kemudian ibu menganyamnya satu per satu. Ibu paling suka janur yang lebar, karena itu akan menghasilkan cangkang ketupat yang jumbo. Tapi kami suka tertawa juga kalau kedapatan janur yang sempit, sehingga cangkangnya jadi kecil. Selama bisa, semuanya akan dimasak, kecuali aku meminta cangkang kecil untuk kujadikan mainan atau dekorasi lebaran di rumah atau di kamarku.

Ketika cangkang sudah jadi, akulah yang bertugas mengisikan beras ke dalamnya. Oh iya, beras isian ketupat harus dicuci dan dibiarkan mengering sejak malam sebelumnya. Ini supaya bulir beras cukup kering, sehingga pengisian bisa berjalan lancar. Kalau masih terlalu basah, bulir beras akan menempel, sehingga pengisian menjadi sulit dan berantakan. Cangkang yang sudah kuisi akan melalui kontrol kualitas lagi oleh ibu, diperiksa apakah rasio isinya sudah sesuai. Jika terlalu sedikit, hasilnya akan lembek, terlalu banyak, ketupat akan menjadi keras dan kurang sedap.

Setelah semua siap, baru deh dimasak. Dulu, kami terbiasa memasak ketupat menggunakan dua panci lurik besar yang kapasitasnya sekitar 7 atau 10 liter, aku kurang tahu. Pokoknya yang satu tuh guede banget pancinya. Ibu dulu suka berseloroh bahwa panci itu bisa dipakai untuk merebus bayi-bayi. (Horor banget emang emak gue.) Panci yang lebih kecil kapasitas maksimalnya sekitar 15 cangkang, sementara yang besar biasa diisi sekitar 20-an cangkang. Tidak boleh terlalu banyak juga, karena bisa jadi matangnya tidak sempurna.

Setelah bakal ketupat dipindah semua ke panci, barulah dituang air. Seluruh cangkang harus terendam. Jika sudah, maka kemudian kompor dinyalakan. Metode purbakala ini membutuhkan waktu memasak kurang lebih empat jam. Padahal waktu itu, kami bisa memasak antara 100-150 ketupat. Hitung sendiri, deh tuh, berapa lama total memasaknya.

Bila telah masak, kompor dimatikan, tapi ketupat akan tetap dibiarkan terendam dulu selama kurang lebih setengah sampai satu jam. Barulah setelah itu, kami akan memancing ujung ekor ketupat di air panas untuk mengeluarkan dan menggantungnya di bilah-bilah tongkat yang sudah disiapkan sebelumnya. Ya, ketupat harus dikeringkan dengan cara digantung seperti itu untuk memastikan airnya benar-benar tiris, sehingga ketupat menjadi lebih tahan lama. Biasanya ketupat ibu bisa tahan di suhu ruang hingga dua hari.

Secara rasa, ya memang tidak ada yang istimewa dari ketupat bikinan ibu. Ha wong isiannya mung beras tok. Tak ada penambahan bumbu apa pun juga. Keistimewaannya terletak pada proses menganyam cangkangnya. Kalau di luar sana bentuk ketupat hanya satu yang populer itu, ketupat anyaman ibu biasanya dibikin dua bentuk. Bentuk belah ketupat yang biasa, dan bentuk kotak serupa dompet. Tamu-tamu yang berkunjung untuk silaturahmi ke rumah kami hampir selalu terkesan, kalau bukan menunggu-nunggu untuk bisa melihat ketupat model kotak.

Bertahun-tahun memperhatikan ibu dan berulang kali mencoba, sayangnya aku tak juga menguasai keterampilan tangan ini. Entahlah, kayaknya memang keterampilan tangan yang piawai kulakukan ya sekadar menganyam kata untuk menceritakan kembali memori dan momen masa kecil seperti ini.

One thought on “Menganyam Memori

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: